Filsafat Ubi yang Menolak Takdir
Suatu pagi yang tidak punya niat baik, seekor kursi memutuskan resign dari lantai. Ia merasa hubungannya toxic. Setiap hari diinjak gravitasi, diduduki manusia dengan masalah cicilan, dan tidak pernah sekali pun ditanya mimpinya apa. Di sudut ruangan, sebuah jam dinding tertawa tanpa jarum. Katanya, “Waktu itu cuma mitos yang diciptakan manusia biar bisa telat dengan alasan yang terdengar ilmiah.” Lalu masuklah seekor ubi rebus memakai dasi kupu-kupu. Namanya Kevin. Kevin bukan ubi biasa. Ia sedang dalam perjalanan spiritual untuk menemukan arti kehidupan, atau minimal arti “diskon 30% khusus member”. Ia pernah ikut seminar motivasi kentang, tapi pulang dengan trauma karena disuruh “keluar dari zona nyaman, masuk ke zona goreng”. Kevin berhenti di depan cermin. “Siapa aku?” tanyanya. Cermin menjawab, “Pantulan sementara dari karbohidrat yang ragu.” Di luar, hujan turun ke atas. Payung-payung menutup diri karena malu tidak berguna. Seekor kucing sedang debat dengan WiFi tentang makna ko...